• Have any questions?
  • (021) 7200058
  • sdialpus@gmail.com
  • Jl. Sisingamangaraja , Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Selamat Hari Anak Nasional
Selamat Hari Anak Nasional

Anak adalah buah hati yang dapat menyinari dan menghangatkan sebuah keluarga, bahkan menjadi generasi yang luar biasa jika dididik dengan kelembutan, kesabaran, ketekunan, dan tentunya dipenuhi dengan kebahagiaan. Pendidikan akhlak yang baik juga akan terbentuk dari perilaku orang tua dan lingkungan sekitar.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah

Selamat Datang Murid-Murid SD Islam Al Azhar 1 Kebayoran Baru Tahun 2019-2020

Selamat Idul Fitri 1440 H
Selamat Idul Fitri 1440 H

Manusia paling mulia adalah manusia yang dapat memaafkan kesalahan orang lain. Di hari yang fitri ini, Kami segenap Keluarga Besar YPI Al Azhar mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 H”, mohon maaf lahir dan batin. Taqabballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.

Idul Fitri menjadi momentum bagi kita untuk memulai menjadi pribadi yang lebih baik. Mari kita bersihkan diri dan sucikan hati di hari nan fitri ini.

HARI PENDIDIKAN
HARI PENDIDIKAN

Hari Pendidikan Nasional, disingkat HARDIKNAS, adalah hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa, diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya. 

Ujian Sekolah Berstandar Nasional
Ujian Sekolah Berstandar Nasional

Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengajak pelaku pendidikan dan juga peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional (UN) 2019 untuk mengutamakan kejujuran. Hal ini diharapkan untuk membentuk karakter jujur peserta didik yang selama ini telah dinodai ketika pelaksanaan UN. 

Dengan alasan "kasihan" jika tidak lulus, para peserta didik "dididik" untuk berlaku curang. Namun, semenjak tahun 2015, tidak ada patokan nilai sebagai persyaratan lulus bagi peserta didik. Ini sedikit memberikan kelegaan, namun yang menjadi pertanyaan, apakah seluruhnya benar-benar jujur ketika melaksanakan UN 2016?

Kemendikbud baru saja merilis bahwa kejujuran siswa dalam pelaksanaan UN tahun 2016 meningkat. Hal ini dilihat dari peningkatan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN). IIUN merupakan penilaian baru yang dimunculkan oleh Kemdikbud dengan cara mengamati kesamaan pola jawaban peserta didik dalam mengikuti UN. Semakin sama polanya, maka Indeks Integritasnya semakin kecil.

UN SMP tahun 2019 diikuti sejumlah 4.372.872 siswa dan 60.067 satuan pendidikan. Sebanyak 72 persen sekolah mengalami peningkatan IIUN, dibandingkan dengan tahun lalu. Sehingga, terdapat kenaikan jumlah sekolah yang memiliki IIUN di atas 80, yaitu sebanyak 23.634 sekolah atau setara 44,03 persen. Tercatat, pada tahun 2015, terdapat sebanyak 12.039 sekolah yang memiliki nilai IIUN di atas 80 atau sebesar 23,44 persen. (Sumber: Siaran Pers Kemdikbud - Indeks Integritas Ujian Nasional SMP/MTs Meningkat  10 Juni 2016)

Dari informasi yang disampaikan oleh Kemdikbud, hanya ada 44,03 persen sekolah yang memiliki IIUN diatas 80, sisanya sebesar 56,97 persen IIUN dibawah 80. Sekalipun meningkat, ini masih sangat mengawatirkan karena masih banyak sekolah yang masih berusaha untuk berbuat curang dalam pelaksanaan UN. Lalu IIUN ini untuk apa?

Berdasarkan sumber yang diperoleh dari Kemdikbud, sekolah yang memiliki IIUN tinggi akan diberikan piagam dan prasasti yang bertuliskan "Sekolah Berintegritas" untuk dipajang di sekolah yang diserahkan langsung oleh Bapak Presiden RI, Joko Widodo dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswdan. Sebuah bentuk apresiasi yang baik bagi sekolah. Namun, apakah ini benar-benar cukup untuk masyarakat yang anaknya bersekolah di sekolah tersebut?

***

Faktanya dilapangan, seorang ibu menelpon saya. Ibu ini adalah orang tua dari siswa yang berprestasi di sekolah saya mengajar.  Ibu ini mengeluhkan bahwa karena dia berdomisili di kabupaten yang berbeda, jadi anaknya (siswa saya) harus melalui jalur Luar Kota.

Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2016, peserta didik yang mendaftar dibagi dua kategori, dari dalam kota dan luar kota. Dalam kota, itu bagi siswa yang berdomisili satu kota (Daerah tingkat II) dengan sekolah yang didaftar (ditunjukkan dengan kartu keluarga) dan luarkota bagi siswa yang berdomisili berbeda kota (Daerah tingkat II) dengan sekolah yang didaftarkan. Untuk luar kota, kuota siswa yang diterima dibatasi, yaitu sekitar 10 persen dari jumlah peserta didik yang diterima disekolah tersebut. Misalnya, sekolah tersebut menerima 300 peserta didik baru, maka untuk jalur luarkota, peserta didik yang diterima 30 orang, dan jalur dalam kota 270 orang.

Hasil UN anak ibu ini (siswa saya) tidaklah buruk, dengan rata-rata 80,63. Nilai yang jauh diatas rata-rata nasional, yang berkisar 58,57. Namun, pada akhirnya siswa tersebut tidak lulus diterima sebagai siswa baru untuk semua sekolah negeri di kota saya mengajar. Karena untuk semua sekolah negeri di kota saya mengajar, nilai terendah untuk jalur luarkota adalah 90,00.

Persitiwa diatas memang dapat terjadi karena nilai UN peserta didik dari luarkota lebih tinggi dari UN siswa dalam kota. Namun, apakah memang nilai UN yang diperoleh dengan kejujuran seperti apa yang diharapkan oleh Kemdikbud? Lalu dimanakah peran IIUN untuk penerimaan peserta didik baru?

Inilah yang menjadi dilema, untuk apa jujur jika harus mengalami "penderitaan" oleh ketidakjujuran? Masih banyak masyarakat (juga sekolah) yang berpikiran skeptis atas prasasti semata. Masyarakat (juga sekolah) masih menghalalkan segala cara agar anaknya lebih terlihat berprestasi walaupun bukan berdasarakan kemampuannya.

***

Masyarakat tentunya sangat mengapresiasi perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan untuk membentuk karakter peserta didik yang baik. Selain membentuk kecerdasan yang tinggi, Kemdikbud berupaya membentuk peserta didik yang berkarakter, agar kedepan pemimpin masa depan Indonesia jauh dari masalah korupsi.

Namun, perlu perhatian lebih untuk hal kejujuran ini. Sekedar saran, 

  1. Alangkah lebih baik jika penerimaan peserta didik tidak hanya berdasarkan nilai UN saja tetapi juga dengan melibatkan IIUN sekolah peserta didik berasal. 
  2. Dibuat standar IIUN untuk sekolah, bagi sekolah yang memiliki IIUN rendah perlu adanya sanksi ringan, sedang, dan berat. Jika ternyata dari tahun ke tahun IIUN masih rendah, sekolah tersebut ditutup.

Dengan demikian IIUN bukan sekedar wacana yang  asal muncul tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Semoga kelak, Prestasi dan Kejujuran berjalan Selaras dalam pendidikan di Indonesia.